23 Warga Gunungkidul dan Hewan Ternak Diduga Terjangkit Antraks

Sebanyak 23 warga Gunungkidul, DIY diduga terjangkit antraks setelah sejumlah hewan ternak mati karena penyakit tersebut. Antraks adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri jenis Bacillus anthracis.

“Hasil dari investigasi kami dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, total hewan mati ada 11 sapi dan 4 kambing,” kata Kepala Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates Hendra Wibawa di Pemkab Gunungkidul, Senin (31/1).

Hendra merinci, 11 sapi yang mati ini sebanyak 5 ekor berasal dari Kecamatan Ponjong dan 6 lainnya dari Kecamatan Gedangsari. Sedangkan untuk 4 kambing, masing-masing 2 ekor dari Kecamatan Ponjong dan Gedangsari.

Hendra melanjutkan, dua wilayah tempat ditemukannya hewan mati karena antraks tersebut kini membatasi lalu lintas atau keluar masuk ternak sampai pengendalian penyakit ini tuntas.

Selain itu, langkah yang dilakukan meminimalisir penyebaran adalah melakukan pengobatan di zona merah atau terinfeksi. Kemudian dilanjutkan dengan upaya vaksinasi kepada hewan.

“Sebetulnya pada hewan ini kalau sudah terkena cepat-cepat ditangani insyaallah bisa disembuhkan. Tapi, langkah penanganan paling tepat memang diobati di lokasi kasus dan vaksinasi (hewan) di sekelilingnya,” paparnya.

Hendra yakin jika penanganan antraks ini tidak memerlukan waktu lama selama ditangani secara cepat dan tepat. “Dalam waktu 3-4 minggu insyaallah tidak akan bertambah. Ini saja tidak ada penambahan kasus,” katanya.

Kasus antraks di Gunungkidul sendiri, menurut Hendra, termonitor muncul sejak pertengahan Desember lalu. Investigasi BBVet menunjukkan daerah kemunculan kasus merupakan lokasi endemik. Bakteri membentuk spora kemungkinan tertimbun tanah dan kembali menyebar lewat rumput yang diambil peternak.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Dewi Irawaty menambahkan, bersamaan dengan kemunculan kasus antraks ini ditemukan 23 warga yang dugaannya terjangkit penyakit ini. Mereka mengalami gejala kulit melepuh.

“Gejalanya semuanya di kulit terutama yang melepuh-melepuh ciri khas mirip antraks,” kata Dewi.

Dewi mengatakan 13 suspek berasal dari Ponjong dan lainnya Gedangsari. Satu dari mereka sekarang dirawat di RSUD Wonosari.

Sedangkan 12 lainnya dalam pengawasan petugas medis selama menjalani masa perawatan di rumah masing-masing.

“Kita lakukan monitor dua kali masa inkubasi, yaitu 60 hari maksimal inkubasi dua kalinya jadi 120 hari,” ucap Dewi.

Dewi menerangkan, penyakit antraks mampu menular dari hewan ke manusia, namun tidak untuk antar manusia. Penularan dari hewan ini umumnya melalui kontak langsung seperti bersentuhan dengan tubuh yang luka.

Puluhan sampel pasien kini tengah diteliti Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitvet) Bogor demi memastikan apakah benar mereka terjangkit antraks atau bukan.

Dilansir dari laman: cnnindonsesia.com

Related posts