Banjir Terjang Ibu Kota Ekuador, 24 Orang Tewas

Setidaknya 24 orang tewas akibat banjir besar yang melanda Ibu Kota Ekuador, Quito, pada Selasa (1/2). Banjir ini disebut-sebut sebagai yang paling parah dalam dua dekade terakhir.

Layanan Darurat Ekuador, SNGRE, mengonfirmasi jumlah kematian itu dalam pernyataan di Twitter. Sebagaimana dilansir AFP, SNGRE juga mengungkap, belasan orang masih hilang dan 48 lainnya terluka.

Dalam rekaman video di Twitter, terlihat jalanan Quito dipenuhi air yang membawa batu, lumpur, dan puing-puing. Sementara itu, regu penyelamat berupaya membantu penduduk mengarungi arus.

Wali Kota Quito, Santiago Guarderas, menuturkan bahwa hujan yang melanda wilayah itu membuat struktur resapan air mereka rusak. Sistem ini memiliki kapasitas penampungan 4.500.000 liter.

Banjir ini terjadi setelah Quito dilanda hujan selama 17 jam. Hujan lebat itu membuat sistem resapan air harus menampung lebih dari empat kali kapasitasnya.

Guarderas mengatakan, hujan yang terjadi pada Senin (31/1) membawa 75 liter air per meter persegi. Angka ini lebih besar daripada yang terjadi pada Sabtu (29/1), di mana hujan hanya membawa 3,5 liter air.

Menurut Guarderas, laporan itu mencetak “rekor yang tak pernah kami terima sejak 2003.”

Akibat hujan lebat ini, banjir terjadi dan merusak jalan, area pertanian, klinik, sekolah, kantor polisi, dan gardu listrik. Banjir juga menerjang lapangan sepak bola yang dipenuhi atlet dan penonton.

“Orang-orang yang sedang bermain tidak bisa kabur. Tiba-tiba mereka terjebak,” ujar saksi mata bernama Freddy Barrios Gonzalez kepada AFP.

Ia kemudian bercerita, “Mereka yang berhasil kabur terselamatkan, (tetapi) ada satu keluarga yang terkubur di dalam lumpur. Di sana, mereka mati.

Sampai saat ini, masih belum jelas berapa banyak pemain dan penonton yang meninggal dan terluka akibat bencana ini. Para tentara tengah mengerahkan anjing penyelamat di sekitar lapangan untuk mencari korban selamat.

Bencana ini juga menyebabkan banyak warga harus diungsikan ke posko penampungan. Salah satu anggota penyelamat, Cristian Rivera, mengatakan bahwa banyak masyarakat yang harus dirawat karena mengidap hipotermia.

Sementara itu, otoritas kota mengerahkan mesin berat untuk membersihkan air dan memperbaiki struktur resapan air. Seorang warga, Mauro Pinas, mengaku ia mendengar suara “ledakan” saat resapan air tersebut rusak kala banjir lumpur bergerak menuju kota.

Tak hanya itu, tiang listrik di salah satu kawasan juga runtuh. Akibatnya, listrik beberapa wilayah kota mati.

Presiden Ekuador, Guillermo Lasso, pun mengungkapkan belasungkawa kepada masyarakat yang terkena dampak banjir melalui pernyataan di Twitter.

“Kami terus bekerja untuk mencari dan menyelamatkan, melakukan tindakan penanggulangan, layanan psikologis, dan mengirimkan orang yang terluka ke rumah sakit,” tuturnya.

Menurut Layanan Manajemen Risiko Nasional, hujan lebat memang terus mengguyur hampir seluruh provinsi di Ekuador sejak Oktober lalu. Akibat hujan ini, setidaknya 18 orang tewas dan 24 lainnya terluka terhitung hingga Minggu (30/1) lalu.

Beberapa peneliti mengatakan, perubahan iklim meningkatkan potensi hujan deras di seluruh dunia. Menurut mereka, situasi ini terjadi karena atmosfer yang lebih hangat menyimpan lebih banyak air.

Dilansir dari laman: cnnindonesia.com

Related posts