Putin Tuding AS Manfaatkan Ukraina untuk Seret Rusia dalam Perang

Presiden Rusia, Vladimir Putin, menuduh Amerika Serikat dan negara Barat lainnya membuat skenario untuk menyeret Rusia ke dalam perang dengan retorika terkait Ukraina.
Putin mengaku curiga karena AS selalu menuding Rusia tengah mempersiapkan serangan ke Ukraina. Atas dasar tuduhan itu, AS dan NATO kemudian memperkuat kehadirannya di Ukraina.

Ia kemudian membahas potensi skenario di masa depan, di mana Ukraina masuk menjadi anggota NATO, kemudian berupaya mencaplok kembali Semenanjung Crimea.

“Coba bayangkan Ukraina merupakan anggota NATO dan memulai operasi militer ini. Apakah kami harus berperang dengan blok NATO? Apakah ada orang yang memikirkan hal ini? Sepertinya tidak,” ujar Putin, seperti dikutip Reuters.

Putin kemudian berkata, “Sudah jelas sekarang bahwa kekhawatiran dasar Rusia diabaikan.”

Pernyataan Putin ini dianggap sebagai cara Rusia menunjukkan bahwa mereka hanya berupaya membela diri dari potensi serangan negara Barat, khususnya AS.

Menurut Putin, fokus utama Washington saat ini bukanlah keamanan Ukraina, melainkan mengendalikan Rusia.

“Dalam hal ini, Ukraina sendiri merupakan instrumen untuk mencapai tujuan tersebut,” kata Putin.

“Ini bisa dicapai dengan berbagai cara, salah satunya dengan menyeret kami ke semacam konflik senjata, dan dengan bantuan sekutu mereka di Eropa, memaksakan penjatuhan sanksi keras untuk kami, yang tengah mereka bicarakan di AS.”

Putin melontarkan pernyataan ini ketika AS terus menuding bahwa Rusia tengah bersiap untuk menyerang Ukraina. AS mendasarkan tudingan ini pada fakta bahwa Rusia menyiagakan 100 ribu pasukan di perbatasan Ukraina.

Namun, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menganggap peringatan AS berlebihan. Ia pun meminta warga Ukraina tetap tenang.

Putin sendiri sangat jarang membahas konflik Ukraina di hadapan publik sejak 23 Desember. Publik pun bertanya-tanya mengenai posisi Putin dalam konflik itu.

Sementara itu, para pejabat terus membahas masalah ini. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, negaranya ingin pihak Barat menghargai kesepakatan 1999. Kesepakatan itu menyatakan tidak ada negara yang bisa memperkuat keamanan mereka dengan mengorbankan yang lain.

Lavrov juga menyinggung piagam yang ditandatangani oleh anggota Organisasi Kerja Sama Keamanan Eropa di Istanbul. Piagam ini juga ikut ditandatangani oleh AS dan Kanada.

Ia mengaku sudah bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken. Lavrov mengklaim Blinken setuju untuk melakukan dialog lebih lanjut terkait masalah ini.

Di sisi lain, pejabat Kementerian Luar Negeri AS mengatakan bahwa Rusia harus membuktikan terlebih dulu iktikad baiknya di perbatasan Ukraina.

“Jika Putin benar-benar tidak menginginkan perang atau perubahan rezim, (Blinken) mengatakan kepada Menteri Luar Negeri Lavrov, ini merupakan waktu yang tepat untuk menarik pasukan dan senjata berat, juga melakukan diskusi serius,” kata seorang pejabat Kemlu AS kepada Reuters.

Sementara itu, Gedung Putih dan Kementerian Luar Negeri AS belum memberikan komentar resmi atas permintaan Reuters.

Meski demikian, satu sumber yang familiar dengan situasi ini mengatakan, pihak AS hanya menawarkan pembicaraan untuk beberapa kekhawatiran Rusia, seperti isu kontrol senjata, di forum yang sesuai.

Dilansir dari laman: cnnindonesia.com

Related posts