Menanti Keputusan Berani PT LIB: Liga 1 Lanjut atau Berhenti?

Kompetisi sepak bola kasta tertinggi Indonesia, Liga 1 2021/2022 sudah memasuki tahap akhir. Saat mulai bergulir pada 11 Juni 2021 lalu, seluruh agenda pertandingan seharusnya rampung pada 11 Maret 2022 mendatang.

Namun, masalah hadir jelang pengujung pelaksanaan. Rencana rampung sebelum pertengahan Maret itu pun berpeluang mundur.

Tak sulit untuk menebak akar persoalan Liga 1 kali ini: Covid-19. Setelah sempat ditunda selama satu tahun, Liga 1 memutuskan kembali membuka kompetisi di tengah ancaman pandemi yang tak jelas akhir ceritanya.

Kini pada pekan ke-22 atau seri keempat Liga 1, virus corona kembali menjadi momok. Sepak bola pun mendapat getahnya.

Per Rabu (2/2), sebanyak 52 pemain dilaporkan positif Covid-19. Meski 90 persen di antara mereka tidak bergejala, hal ini tetap menjadi ancaman mengingat penularan Covid-19 terutama pada varian Omicron saat ini sangat tinggi.

Buktinya pada Selasa (1/2) lalu, Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan menyebut temuan 26 kasus Covid-19 yang dialami para pemain.

Hanya berselang satu hari kemudian, total kasus ternyata bertambah dua kali lipat. Ini menjadi pertanda masalah yang dialami PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku penyelenggara kompetisi benar-benar serius.

Sejauh ini, sudah delapan klub yang melaporkan anggotanya positif terpapar. Mereka adalah Arema FC, Persija Jakarta, Persib Bandung, PSM Makassar, Persebaya Surabaya, Persiraja Banda Aceh, PSS Sleman, dan Madura United.

Belakangan, Persita Tangerang juga mengonfirmasi lima pemain dan satu ofisial mereka terpapar Covid-19.

Madura United menjadi pihak yang paling terdampak dengan total 24 kasus di internal klub. Buntutnya, pertandingan Laskar Sappe Kerrab kontra Persipura Jayapura pada Selasa (1/2) terpaksa ditunda. Ini menjadi laga perdana yang akhirnya ditahan akibat Covid-19.

Keputusan penundaan berasal dari rapat darurat yang dilakukan PT LIB dan klub-klub peserta pada hari H pertandingan.

Hal serupa juga dilakukan pada Rabu (2/2) siang WIB. Pertandingan Persib Bandung melawan PSM Makassar yang seharusnya bergulir Rabu (2/2) malam WITA menjadi laga kedua yang ditunda.

Persib Bandung dianggap tidak memenuhi syarat minimal 14 pemain di skuad utama. Sebab, penggawa Maung Bandung kini hanya tersisa 13 kepala setelah sejumlah pemain positif Covid-19.

Meski jumlah penularan Covid-19 sudah tidak bisa dihitung dengan jari tangan, belum ada tanda-tanda PT LIB berencana menunda kompetisi seperti yang mereka lakukan di pertengahan 2020.
Kala itu, regulator bahkan berani memberhentikan turnamen secara permanen. Dampaknya, tidak ada juara Liga 1 musim 2020.

Sejauh ini, PT LIB hanya bisa melaporkan sebaran kasus, menunda pertandingan, dan mengimbau klub untuk menerapkan protokol kesehatan.

Pasalnya, pihak regulator mendengar kabar ada segelintir anggota klub yang bandel karena keluyuran di tengah penerapan sistem bubble.

Sejatinya, masalah protokol keselamatan ini bukan hanya pada PSSI atau PT LBI selaku regulator yang menerapkan aturan-aturan.

Pihak klub, di mana pemain, staf pelatih, ofisial, dan pihak lain juga punya tanggung jawab menjaga ‘marwah’ protokol kesehatan ini.

Tanpa bantuan dari pemain, pelatih dan ofisial, atau lebih-lebih jika pemain, pelatih, dan ofisial ikut membandel, maka label protokol kesehatan hanya jadi pepesan kosong.

Selain belum terbesit menunda atau menghentikan kompetisi, PT LIB juga belum berencana memindahkan lokasi pertandingan dari Bali ke tempat lain. Tak jelas apa penyebabnya.

Ini adalah pukulan telak bagi PT LIB. Mereka berhadapan dengan nasib kompetisi, di saat yang sama juga harus bertanggungjawab terhadap keselamatan pemain, pelatih, staf klub, hingga roda ekonomi yang mulai berdenyut di sekitar arena.

Memberi pernyataan berhenti atau lanjut dalam konteks penyelenggaraan acara besar memang bukan hal yang mudah. Perlu rentetan dialog dan barisan kajian yang perlu digodok matang-matang hanya untuk menghasilkan satu keputusan.

Pasalnya, pentas olahraga di Indonesia -atau di belahan dunia manapun- bukan hanya soal ajang lomba. Mengerucut ke sepak bola, sudah menjadi hal lumrah bahwa sebuah pertandingan merupakan peluang menggali pundi-pundi bagi mereka yang berharap rezeki.

Kendati demikian, aspek kesehatan tampaknya perlu menjadi perhatian utama penyelenggara. Karena sudah terlihat jelas, mustahil ada pertandingan jika tidak ada pemainnya.

Tanpa pemain-pemain yang sehat, melangsungkan atau bahkan menyelesaikan kompetisi cuma jadi ilusi. Bola kini ada di PT LIB dan juga PSSI, ingin Liga 1 2021/2022 lanjut atau dihentikan lagi?

Dilansir dari laman: cnnindonesia.com

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.