Diburu Militer Myanmar, Pemberontak Putus Hubungan dengan Keluarga

Beberapa keluarga di Myanmar memutus hubungan dengan anak, cucu, saudara, atau keponakan mereka yang diketahui melawan rezim junta militer. Pemutusan hubungan ini diungkapkan dalam surat kabar milik pemerintah.

Dalam tiga bulan terakhir, rata-rata enam sampai tujuh keluarga sudah memutus hubungan dengan pemberontak junta setiap harinya. Angka ini muncul setelah militer Myanmar pada November mengumumkan bakal mengambil properti milik musuh dan menangkap orang yang melindungi protestan.

Semenjak itu, junta Myanmar kerap menggerebek rumah warga.

Lin Lin Bo Bo, seorang penjual mobil yang bergabung kelompok perlawanan junta, merupakan salah satu orang yang diputus hubungan oleh orang tuanya. Namanya tertulis dalam salah satu dari 570 pemberitahuan yang ditelusuri Reuters.

“Kami mendeklarasikan kami tidak mengakui Lin Lin Bo Bo karena ia tak pernah mendengarkan keinginan orang tuanya,” demikian pernyataan orang tua Lin, San Win dan Tin Tin Soe, dalam surat kabar pemerintah The Mirror pada November.

Saat berbicara kepada Reuters di kota perbatasan Thailand, Lin mengatakan ibunya memutuskan hubungan mereka setelah beberapa tentara datang ke rumah dan mencarinya.

Beberapa hari kemudian, Lin mengaku menangis saat melihat pengumuman pemutusan hubungan itu.

“Rekan-rekan saya mencoba menghibur saya dan mengatakan keluarga tak bisa menghindari itu (pemutusan hubungan) saat berada di bawah tekanan. Tetapi saya sangat sakit hati,” ujar Lin kepada Reuters.

Lin juga berharap ia bisa kembali pulang dan mendukung keluarganya.

“Saya ingin revolusi ini selesai secepat mungkin,” katanya.

Saat dihubungi Reuters, orang tua Lin menolak memberikan komentar.

Sementara itu, jurnalis So Pyay Aung mengatakan pada Reuters, ia sempat merekam polisi menggunakan tongkat dan tameng untuk membubarkan protes. Rekaman ini disiarkan langsung di situs web berita Suara Demokratik Burma.

Setelah pihak berwenang mencari Aung, ia harus bersembunyi di berbagai wilayah Myanmar sebelum terbang ke Thailand bersama istri dan anaknya. Aung mengaku, ia tak diakui ayahnya pada November.

“Saya menyatakan, saya tidak mengakui anak saya karena ia melakukan tindakan yang termaafkan melawan keinginan orang tuanya. Saya tidak akan memiliki tanggung jawab apapun berkaitan dengannya,” demikian pernyataan ayah Aung, Tin Aung Ko, dalam media pemerintah Myanmar Alinn.

“Saat saya melihat koran yang mencantumkan pemutusan hubungan dengan saya, saya merasa sedikit sedih,” kata Aung kepada Reuters.

“Tetapi saya mengerti orang tua saya takut akan tekanan. Mereka mungkin khawatir rumah mereka akan disita atau mereka ditangkap,” lanjutnya.

Aung juga takut pemutusan hubungan dengan orang tuanya ini bakal bersifat permanen.

“Saya bahkan tak memiliki rumah setelah revolusi ini berlangsung. Saya khawatir sepanjang waktu karena orang tua saya berada di bawah rezim militer,” tutur Aung.

Sementara itu, ayah Aung menolak merespons permintaan komentar.

Meski demikian, dua orang tua yang memutus hubungan dengan anak mereka lewat pengumuman yang mirip, mengatakan pengumuman ini dibuat untuk memberitahu pihak berwenang mereka tak lagi bertanggung jawab atas apa yang dilakukan anak mereka.

“Anak saya melakukan tindakan yang ia percaya, tetapi saya yakin dia akan khawatir jika kami mendapatkan masalah,” kata seorang ibu.

“Saya tahu ia bisa mengerti apa yang saya lakukan untuknya.”

Menurut aktivis hak asasi manusia di kelompok Burma Campaign UK, Wai Hnin Pwint Thon, reunifikasi mungkin dilakukan untuk keluarga yang terpisah dengan cara yang seperti ini.

“Kecuali mereka melakukannya dengan pengacara dan surat wasiat, hal ini (pemutusan hubungan lewat pengumuman) tak dianggap resmi,” kata Thon.

“Setelah beberapa tahun, mereka bisa kembali menjadi keluarga.”

Thon mengungkapkan, junta memang kerap menargetkan keluarga aktivis perlawan sejak konflik 2007 dan 1980-an. Meski demikian, taktik ini semakin sering dilakukan sejak kudeta terjadi pada 1 Februari 2021.

“Anggota keluarga takut terlibat dalam kejahatan. Mereka tidak mau ditangkap, dan mereka tak mau terseret masalah,” tutur Thon.

Pihak junta Myanmar tak merespons Reuters saat dimintai tanggapan terkait cerita ini.

Namun, juru bicara junta Zaw Min Tun mengatakan orang yang telah membuat pengumuman di surat kabar ini masih bisa dihukum jika terbukti mendukung kubu yang melawan junta.

Ratusan orang di Myanmar turun ke jalan untuk memprotes kudeta yang terjadi pada tahun lalu. Mengingat junta yang semakin gencar melakukan kekerasan, beberapa protestan kabur ke luar negeri ataupun bergabung dengan kelompok senjata di pedalaman negara.

Kelompok perlawanan ini dikenal sebagai Pasukan Pertahanan Rakyat dan bersekutu dengan pemerintahan sipil Myanmar yang digulingkan.

Dilansir dari laman: cnnindonesia.com

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *