Alasan Harga Kedelai Melambung Hingga Berdampak Pada Tahu dan Tempe

Perajin tahu dan tempe di Jakarta sudah mengeluarkan aba-aba harga produk mereka naik 20 persen setelah 23 Februari nanti. Untuk tempe, Ketua Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta Sutaryo mengatakan kenaikan terjadi dari Rp5.000 ke Rp6.000 per papan.

“Tahu dari Rp35 ribu ke Rp40 ribu,” ujar Sutaryo seperti dikutip dari Antara, Rabu (16/2).

Ia menambahkan kenaikan harga tersebut diberlakukan sebagai pilihan terakhir dalam menyikapi harganya kedelai, bahan baku tahu dan tempe. Pasalnya, harga kedelai sudah mencapai Rp11.300 per kg.

Lalu apa yang menjadi penyebab harga kedelai bisa mahal?

Kementerian Perdagangan menyatakan harga kedelai naik karena mengikuti pasar internasional. Kenaikan terjadi akibat ketidakpastian cuaca dan inflasi bahan makanan di AS, salah satu eksportir utama kedelai dunia.

Karena masalah tersebut harga kedelai jadi naik. Kemendag memperkirakan kenaikan kemungkinan terjadi sampai Mei 2022 ke level US$15,79 usd per bushel. Harga itu kemungkinan baru turun pada Juli mendatang dan itu pun tak signifikan.

Menurut perkiraan Kemendag, harga hanya akan turun ke level US$15,74 per bushel di tingkat importir.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Oke Nurwan mengatakan kenaikan harga di level internasional itu berdampak ke Indonesia karena 80 persen kebutuhan kedelai di dalam negeri yang salah satunya untuk tahu tempe, didatangkan dari impor.

Jadi, masalah di internasional itu membuat kenaikan harga kedelai susah dihindari.

Lalu tidak bisakah Indonesia budidaya kedelai sendiri?

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo beberapa waktu lalu mengatakan pengembangan kedelai lokal sulit dilakukan oleh petani di dalam negeri. Padahal, kebutuhannya setiap tahun terus meningkat.

“Petani lebih memilih untuk menanam komoditas lain yang punya kepastian pasar. Namun, kami terus mendorong petani untuk melakukan budidaya,” katanya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.