Ahli Jelaskan Kecepatan Lidah Api Matahari Sampai Bumi

Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Andi Pangerang menjelaskan fenomena lidah api Matahari atau prominensa bisa mengganggu layanan komunikasi, di antaranya pesawat terbang.

Menurutnya hal itu karena prominensa dapat berdampak ke Bumi karena menghasilkan proton dan elektron berenergi tinggi yang dapat mengganggu kinerja perangkat yang bekerja dengan sinyal.

“Prominensa (lidah Matahari) dapat menggangu komunikasi satelit, navigasi atau GPS, radio High Frequency (HF) jarak jauh maupun radar,” ujar Andi kepada CNNIndonesia.com lewat pesan teks, Selasa (22/2).

Ia mengatakan lidah Matahari pada dasarnya merupakan tonjolan yang muncul dari permukaan Matahari, berupa garis-garis magnetik untuk menjaga plasma (gas terionisasi) tetap berada di permukaan Matahari.

Kecepatan prominensa ke Bumi bervariasi antara 600 kilometer per detik, hingga ribuan kilometer perdetik. Orominensa hanya dapat muncul jika aktivitas Matahari meningkat seperti saat ini, banyak bintik Matahari (sunspot) yang muncul meskipun bintiknya tidak berukuran besar.

“Bintik matahari ini sebagai salah satu indikator meningkatnya aktivitas Matahari,” tuturnya.

Di samping itu dia menjelaskan durasi lidah api Matahari untuk sampai Bumi.

Dengan jarak rata-rata Bumi-Matahari 150 juta kilometer, jika asumsi kecepatan minimum 600 km/detik dan kecepatan maksimumnya 2000 km/detik, prominensa bisa sampai ke Bumi antara 21 jam sampai 3 hari.

Fenomena lidah api Matahari akan dirasakan semua negara berpotensi terdampak fenomena lidah Matahari, termasuk Indonesia.

“Semua negara berpotensi (terdampak), termasuk juga Indonesia,” katanya.

Meski demikian, kata Andi, warga Bumi dilindungi magnetosfer atau medan magnet raksasa yang melingkupi bumi.

Ia menjelaskan jika magnetosfer terkena prominensa maupun badai matahari, akan terdorong di sisi Bumi siang hari, dan disalurkan ke wilayah kutub. Sehingga, dampak dari lidah Matahari maupun badai Matahari ini dapat sedikit berkurang, meskipun masih dapat dirasakan.

“Residunya diteruskan ke bagian malam berupa ekor magnetik yang panjang yang disebut juga magnetotail,” tutup Andi.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *